Teringat sebuah pengalaman, sekitar tahun 95-an, saat itu saya sering membawa kendaraan milik orang tua ke bengkel montir langganan jika terjadi kerusakan. Kualitas montir langganan kami ini tidak pernah kami ragukan. Sampai sekarang pun, saya belum menemui lagi montir sekaliber beliau. Sedikit mahal memang, tapi itu harga sebuah kualitas bukan?
Karena sudah lama kenal dengan pak montir, terlebih karena kami biasa memperbaiki mobil sejak ayahnya masih mengelola bengkel, saya bisa ngobrol dengan beliau cukup akrab. Suatu ketika, disalah satu pembicaraan, yang saya lupa lagi dari mana asal pembicaraan itu berawal. Beliau mengatakan bahwa keterampilan memperbaiki mobil itu dibina sejak kecil, diperolehnya selama bertahun-tahun sambil membantu ayahnya mengotak-atik mobil yang sedang diperbaiki. Dan tambahnya, untuk bisa seperti ini, butuh pengalaman dan keterampilan yang diasah bertahun-tahun. Imbuhnya lagi, tidak seperti komputer, yang hanya ketak-ketik kemudian beres.
Hee.., saat itu, hampir saya spontan mendebat, tentu yang akan terucap adalah istilah-istilah teknis komputer atau bahkan istilah-istilah TI yang mungkin atau hampir dipastikan tidak akan dimengerti oleh beliau. Dalam konteks ini, tentu tidak bermaksud menyatakan saya lebih
superior atau lebih pintar dari beliau, tapi sama halnya saya pun tidak mengerti bagaimana memperbaiki mobil, yang sudah barang tentu itulah maksud ketempat beliau. Atau katakanlah, saya pun tidak akan mengerti bidang keilmuan yang lain seperti medis atau farmasi.
Sampai sekarang pun, jika berhadapan dengan kasus yang sama, saya tidak tahu harus berkata apa.
Buat saya pribadi, lebih mudah berdebat atau berdiskusi dengan kelompok sejenis. Maksudnya, yang berada pada lingkungan akademis yang sama, atau setidaknya memiliki wawasan atau pengetahuan yang sama. Sekali lagi saya katakan wawasan atau pengetahuan yang sama, bukan wawasan atau pengetahuan yang tinggi. Bagi saya, pengetahuan itu tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Yang ada adalah memiliki wawasan suatu bidang ilmu pengetahuan itu atau tidak memilikinya.
Seperti misalnya, suatu ketika, saat masih kuliah, ada teman senior, atau lebih tepatnya adalah teman ibuku di sebuah organisasi, yang akhirnya menjadi temanku juga. Seorang dosen psikologi yang memang kritis dan terkesan jail. Membuat pernyataan sekaligus pertanyaan, "Untuk apa belajar matematik dan rumus-rumus dikuliah teknik, toh buat jembatan, gedung dan mobil gitu-gitu aja. Enggak perlu pake rumus." Atau, akhir-akhir ini, salah satu teman istri saya bertanya, seseorang yang sedang mengambil program doktor. "Bagaimana bisa tahu umur bintang dan proses evolusi bintang dengan hanya mengamati spektrum cahaya?" Sudah barang tentu, dengan mudah atau setidaknya relatif lebih mudah menerangkan dan berdiskusi. Suatu hal yang pasti, saya dapat menggunakan beberapa istilah teknis dalam bidang keilmuan yang sedang didiskusikan, kalaupun dalam diskusi itu kurang difahami, relatif lebih mudah menjelaskan definisinya. Dan untuk teman-teman kelompok sejenis ini pula saya dapat berkomunikasi dua arah dengan lancar.
Menara gading atau Ivory Tower dapat dibaca di sini.