Feed on
Posts
comments

Ketika jaman kuliah dulu, cukup sering saya mengajak teman atau sahabat makan daging favorit saya, yaitu sate kelinci.  Dan sering kali pula, jika teman saya itu pertamakali atau baru tahu kelinci bisa dimakan, memberi komentar, "Ih kasian, kelinci kan lucu!" "Hm…, elo  enggak kasian ama ayam atau kambing?",  saya balik berkomentar.  Bahkan ada beberapa yang menolak, lebih memilih sate ayam atau kambing, dengan alasan "lucu" itu tadi.
Setidaknya pada saat itu, ada seekor kelinci beruntung tidak jadi disembelih, dan setidaknya ada satu ekor ayam atau kambing yang sial karena disembelih untuk
dijadikan sate, karena kami memilih makan sate ayam atau kambing.   :-D

Menara Gading

Teringat sebuah pengalaman, sekitar tahun 95-an, saat itu saya sering membawa kendaraan milik orang tua ke bengkel montir langganan jika terjadi kerusakan. Kualitas montir langganan kami ini tidak pernah kami ragukan. Sampai sekarang pun, saya belum menemui lagi montir sekaliber beliau. Sedikit mahal memang, tapi itu harga sebuah kualitas bukan?

Karena sudah lama kenal dengan pak montir, terlebih karena kami biasa memperbaiki mobil sejak ayahnya masih mengelola bengkel, saya bisa ngobrol dengan beliau cukup akrab. Suatu ketika, disalah satu pembicaraan, yang saya lupa lagi dari mana asal pembicaraan itu berawal. Beliau mengatakan bahwa keterampilan memperbaiki mobil itu dibina sejak kecil, diperolehnya selama bertahun-tahun sambil membantu ayahnya mengotak-atik mobil yang sedang diperbaiki. Dan tambahnya, untuk bisa seperti ini, butuh pengalaman dan keterampilan yang diasah bertahun-tahun. Imbuhnya lagi, tidak seperti komputer, yang hanya ketak-ketik kemudian beres.

Hee.., saat itu, hampir saya spontan mendebat, tentu yang akan terucap adalah istilah-istilah teknis komputer atau bahkan istilah-istilah TI yang mungkin atau hampir dipastikan tidak akan dimengerti oleh beliau. Dalam konteks ini, tentu tidak bermaksud menyatakan saya lebih
superior atau lebih pintar dari beliau, tapi sama halnya saya pun tidak mengerti bagaimana memperbaiki mobil, yang sudah barang tentu itulah maksud ketempat beliau. Atau katakanlah, saya pun tidak akan mengerti bidang keilmuan yang lain seperti medis atau farmasi.

Sampai sekarang pun, jika berhadapan dengan kasus yang sama, saya tidak tahu harus berkata apa.

Buat saya pribadi, lebih mudah berdebat atau berdiskusi dengan kelompok sejenis. Maksudnya, yang berada pada lingkungan akademis yang sama, atau setidaknya memiliki wawasan atau pengetahuan yang sama. Sekali lagi saya katakan wawasan atau pengetahuan yang sama, bukan wawasan atau pengetahuan yang tinggi. Bagi saya, pengetahuan itu tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Yang ada adalah memiliki wawasan suatu bidang ilmu pengetahuan itu atau tidak memilikinya.

Seperti misalnya, suatu ketika, saat masih kuliah, ada teman senior, atau lebih tepatnya adalah teman ibuku di sebuah organisasi, yang akhirnya menjadi temanku juga. Seorang dosen psikologi yang memang kritis dan terkesan jail. Membuat pernyataan sekaligus pertanyaan, "Untuk apa belajar matematik dan rumus-rumus dikuliah teknik, toh buat jembatan, gedung dan mobil gitu-gitu aja. Enggak perlu pake rumus." Atau, akhir-akhir ini, salah satu teman istri saya bertanya, seseorang yang sedang mengambil program doktor. "Bagaimana bisa tahu umur bintang dan proses evolusi bintang dengan hanya mengamati spektrum cahaya?" Sudah barang tentu, dengan mudah atau setidaknya relatif lebih mudah menerangkan dan berdiskusi. Suatu hal yang pasti, saya dapat menggunakan beberapa istilah teknis dalam bidang keilmuan yang sedang didiskusikan, kalaupun dalam diskusi itu kurang difahami, relatif lebih mudah menjelaskan definisinya. Dan untuk teman-teman kelompok sejenis ini pula saya dapat berkomunikasi dua arah dengan lancar.

Menara gading atau Ivory Tower dapat dibaca di sini.

Sinergi

Teringat dahulu, mungkin ada sekitar 10-15 tahun yang lalu. Di rumah orang tua saya diadakan acara kumpul keluarga besar. Di salah satu kegiatannya adalah acara panggang daging di kebun. Panggangan disiapkan, arang dimasukkan. Masalah muncul ketika arang hendak dinyalakan.  Bagaimana caranya agar arang itu menyala. Salah seorang mengatakan,  gunakan minyak tanah. Satu orang lagi menyanggah, jangan gunakan minyak tanah, nanti bau. Gunakan saja kertas koran. Selain masalah apakah menggunakan minyak tanah atau tidak, ada lagi yang dipermasalahkan, yaitu kipas dibawah panggangan, apakah sudah dihidupkan atau tidak selama proses menyalakan arang itu. Perdebatan itu terus berlanjut, satu orang mencoba menyalakan dengan menggunakan kertas koran. Ternyata gagal.

Setelah itu, dicoba menggunakan minyak tanah, gagal juga. Gagal, karena minyak tanah yang disiramkan kurang, ’setengah hati’, ketika menyiramkannya. Ini terjadi karena diiringi oleh protes dari orang-orang yang meyakini nantinya akan bau. Demikian juga,
kipas yang berada dibawah panggangan, kurang begitu sinkron dioperasikan pada saat proses menyalakan arang, karena  setiap orang punya kehendak masing-masing. Tidak sinergi,  ketika salah satu cara  akan diterapkan.

Saat itu, saya berfikir, sebetulnya, mau menggunakan kertas koran kek, mau pakai minyak kek. Sama saja, asal semua kompak, sinergi, rasanya arang akan menyala dan dapat digunakan. Setelah beberapa menit tidak hidup, para orang tua, yang masih berada di dalam rumah mulai penasaran, karena mendengar suara-suara gaduh di luar. Saat itu, saya mencoba mengambil inisitatif, berhubung jadi tuan rumah, merasa lebih bisa mengambil keputusan. Ambil minyak tanah setengah gayung, kemudian disiramkan seluruhnya ke tumpukan arang. Tidak peduli lagi dengan suara-suara protes. Korek api dinyalakan, dan "wusss", dalam sekejap api menyala besar. Tiga-empat menit kemudian, setelah dirasa sudah tidak bau minyak tanah lagi, dan api sudah terkontrol. Panggangan siap digunakan.

Moral Story: Banyak jalan menuju Roma, tapi tolong deh, ambil salah satu dan konsisten mendukung jalan yang telah dipilih.

Nama blog diganti

Nama blog diganti, berhubung saya sudah tidak berada di kota Bandung lagi. Sekian lama blog ini saya biarkan, mungkin ini posting-an pertama setelah kira-kira 2 tahun ditinggalkan.

Nama jurig dipilih atas alasan pribadi saja. Mirip-mirip latar belakang Bruce Wayne menggunakan kostum kelelawar. Konon, walau versi resmi mengatakan Bruce Wayne menggunakan kostum itu dengan  tujuan untuk menyembunyikan identitas dan menakuti musuh-musuhnya, tapi saya lebih suka versi  yang mengatakan  Bruce menggunakan kostum itu karena dia takut akan kelelawar di masa kanak-kanak.

Nah, dahulu di masa ingusan, saya takut jurig setengah mati. Namun, teman-teman dekat masih beranggapan bahwa sekarang pun saya masih takut jurig. He…he….

Jurig berarti hantu dalam bahasa Sunda. Tapi di sini, saya tidak akan membahas apa itu jurig. Biarkanlah jurig apa adanya. :-) Tidak perlu diungkat-ungkit apakah berasal dari hutan larangan atau dari kuburan angker.

Bahasa yang digunakan mungkin akan bervariasi, bahasa Indonesia, Inggris, Sunda atau mungkin bahasa yang sekarang saya pelajari? Tergantung mood lah. Penggunaan bahasa Inggris atau asing berguna jika saya memang menginginkan posting-annya akan dibaca oleh selain orang Indonesia.

Bagi saya, aturan main dalam penggunaan bahasa Indonesia, baik dari tata bahasa, penulisan kata,  belum lagi  berubah-ubahnya cara penulisan  di berbagai edisi KBBI, benar-benar membuat pusing kepala. Jika ada ahli tata bahasa yang membaca tulisan ini, mungkin semua paragraf habis dicorat-coret. Tapi setidaknya, saya akan mencoba menuliskannya dengan baik dan benar.

Mulai saat ini, saya mencoba untuk tidak akan malas lagi memutakhirkan blog ini. Semoga….

Hi Fellows,
FakeusbI have bad experience. I bought USB flash disk, they claim the capacity 4GB, they use Sony as a brand. They use MICRO VAULT for their name’s product.  It’s fake. Problems found when my friends try to upload the file more than 300Mb. The files always corrupt. And it’s happened with other USB Flash. They trick windows and also linux in to thinking it is 4 GB. It is criminal I  think.   I google some sites. And finally I found some claim about that. First, I found from everythingusb.com  and users.on.net . Becarefull guys,  they are fake. I took some pictures from them.
 

Finally…

Finally, garbage on Jl. Tamansari is cleaned. I don’t know where they are going. But that’s ok, keep it that way Pak Walikota. :-)

Leuwigajah dump site  tragedy, 90 people died (February 21, 2005). You can read the news from  Liputan 6 SCTV . The garbage dump collapses,  that covered 6 villages,  buried  dozens  people. The Leuwigajah garbage dump lies on a plateau straddling the city of Cimahi and the district of Bandung. It is used to dump garbage from the cities of Cimahi and neighbouring Bandung, as well as from the district of Bandung.
Problems come, Bandung has not dump site anymore. Garbage piles up. I took some pictures from site around bandung where people put their trash before vehicle loader collect.  I put those pictures in my photo album Garbage piles up in Bandung. .